Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/alhamidz/public_html/lib/smarty/Smarty_Compiler.class.php on line 270


Kami membutuhkan dukungan dari seluruh Masyarakat Indonesia agar dapat memberantas kesesatan syiah


English French German Spain Italian Dutch ArabicChinese SimplifiedJapaneseKoreanRussianPortuguese

Choose the language you want.

Al Imam Ali Karromallohu Wajhah (kw)

Al Imam Ali

Karromallohu Wajhah (kw)

 

Imam Ali kw adalah ayah Al Hasan ra dan Al Husin ra. Beliau adalah anak angkat Rosululloh SAW dan merupakan salah satu menantu Rasulullah SAW. Beliau Imam Ali kw adalah suami Siti Fathimah Az Zahra ra, sedang ayah beliau adalah Abu Thalib bin Abdul Muttalib, salah seorang paman Rasulullah SAW, yang juga menjadi ayah angkat baginda Rasulullah SAW. Beliau Abu Thalib sangat berjasa kepada Rasulullah SAW, terutama dalam menghadapi Kuffar Quraisy.

 Sebenarnya nama Asli Abu Thalib adalah Abdu Manaf. Tapi oleh karena putra sulungnya bernama Thalib, maka beliau mendapat panggilan Abu Thalib, yang artinya ayahnya Thalib.

Adapun ibu Imam Ali kw, adalah Fathimah binti Asad ra. Beliau termasuk orang-orang yang ikut hijrah ke Madinah.

 Fathimah binti Asad juga merupakan ibu angkat Rasulullah SAW, sebab sebagaimana kita ketahui, bahwa sejak ibu kandung Rasulullah SAW wafat, dimana saat itu beliau masih berumur enam tahun, maka Fathimah binti Asadlah yang menjadi pengganti ibunya.

 Oleh karena itu, Rasulullah SAW merasa sangat sedih pada saat ibu angkatnya itu meninggal.

           Pada waktu pemakamannya, telah terjadi satu peristiwa yang tidak biasa dilakukan oleh Rasulullah SAW. Dimana saat itu Rasulullah SAW  ikut  turun  ke dalam  kuburnya.  Kemudian  beliau  merebahkan  badannya  di sebelah ibu angkatnya seraya  berdo’a dan dengan penuh harapan agar ibunya itu tidak sampai dihimpit (dijepit ) oleh tanah.

         Demikian Fathimah binti Asad ra, ibu Imam Ali kw, sampai sekarang makamnya selalu diziarahi oleh banyak orang di pemakaman Baqi’ di kota Madinah.

 Dalam buku-buku sejarah disebutkan bahwa beliau Imam Ali kw lahir di dalam Ka’bah. Di mana di saat ibunya sedang berada di dekat Ka’bah, tiba-tiba merasa akan melahirkan. Beliau segera masuk ke dalam Ka’bah dan tidak beberapa lama, lahirlah seorang bayi laki-laki yang kemudian diberi nama Ali. Sebenarnya, waktu lahir beliau diberi nama Haidaroh oleh ibunya, tapi kemudian diganti Ali oleh ayahnya.

 

         Kemudian setelah dewasa, Imam Ali kw dikenal sebagai seorang pahlawan yang gagah berani yang selalu mendampingi Rasulullah SAW. Beliau dikenal sebagai seorang Mujahid yang ditakuti oleh lawan-lawannya. Seorang yang telah mengalahkan pendekar-pendekar Kuffar, seperti Amer bin Abdi Wud dari Mekah, Mirhab dari Khaibar serta pendekar-pendekar Kuffar yang lain yang tidak terhitung banyaknya.

          Dalam kehidupan sehari-hari, Imam Ali kw dikenal sebagai orang yang wara’ (sangat berhati-hati dalam masalah hukum syariat), serta dikenal sebagai orang yang taat beribadah. Hal ini sesuai dengan kesaksian Siti Aisyah Ummul Mu’minin, dimana beliau pernah berkata bahwa dari orang laki-laki yang paling dicintai Rasulullah SAW adalah suami Fathimah (Imam Ali kw). Seorang yang menurut Siti Aisyah ra, sebagai orang yang tekun melakukan shalat dan puasa.

          Imam Ali kw juga dikenal sebagai orang yang alim, yang menguasai berbagai ilmu agama. Rasulullah Saw pernah bersabda:

 

أنا مَدِينَةُ العِلْمِ وَعَلِىٌّ بَابُهَا

( الترمذى والحاكم والطبرانى والبزار )

“Saya adalah kotanya ilmu dan Ali adalah pintunya.”

(HR Thurmudhi, Hakim, Thobaroni dan Bazzar)

 

           Di samping sifat-sifat mulia itu semua, Imam Ali kw adalah salah seorang Ahlul Bait, yang telah disucikan sesuci-sucinya oleh Allah SWT.        

           Allah berfirman:

  اِنَّمَا يُرِيدُ الله لِيُذْهِبَ عَنْكُمْ الرِّجْسَ اَهْل البَيت وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

                                                  ( الاحزاب : 33 )

           “Sesungguhnya Allah hendak menghapuskan segala noda dan kotoran (dosa) dari kalian Ahlul Bait dan hendak mensucikan kalian sesuci-sucinya.”                             

                                                                                                   (QS. Al Ahzab: 33)

          Selain mendapat keistimewaan dan keutamaan yang diberikan oleh Allah kepada Ahlul Bait, Imam Ali kw juga mendapat keistimewaan-keistimewaan yang diberikan oleh Allah kepada para Sahabat. Hal mana karena beliau disamping sebagai seorang Ahlul Bait, beliau juga termasuk Sahabat Rasulullah SAW.

 

           Beliau adalah orang yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya serta dicintai oleh setiap Mu’min.

           Hal ini dikuatkan oleh keterangan Rasulullah SAW, di mana menjelang perang Khaibar beliau berkata kepada para Sahabat: “Besok aku akan memberi (menyerahkan) bendera kepada seorang yang mencintai Allah dan RasulNya serta dicintai oleh Allah dan RasulNya.”

           Ternyata besoknya yang diberi bendera adalah Imam Ali kw, sang pahlawan yang ditakuti oleh lawan-lawannya.

              Dalam Sahih Bukhari juga disebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda kepada Imam Ali:

أنْتَ مِنِّى وَأنَا مِنْكَ                   ( البخارى )

 Engkau sebagian dari aku dan aku sebagian darimu.”

                                                                         (HR. Bukhari)

         Kemudian Rasulullah SAW juga pernah bersabda:

لاَ يُحِبّكَ  اِلاّ  مُؤْمِنٌ  وَلاَ  يُبْغِضُكَ اِلاّ  مُنَا فِقْ  

                    ( مسلم وترمذى )

  “Tidaklah mencintaimu, kecuali seorang Mu’min dan tidaklah membencimu, kecuali seorang Munafiq.”

                                                       (HR. Muslim, Turmidzi )

        Begitu pula Abi Said Al Khudri ra pernah berkata;

 

اِنَّ كُنَّا لَنَعْرِفُ المُنافِقِين بِبُغْضِهِمْ عَلِى بن ابى طالب

                                  ( الترمذى )

Kita dahulu mengetahui orang orang Munafig, dengan kebencian mereka kepada Ali bin Abi Tholib.                                                                  ( HR Thurmudhi )

 

Namun antara para Sahabat, mereka saling menghormati dan mencintai.

Pernah terjadi, satu ketika Rasulullah SAW sedang duduk-duduk di masjid bersama para sahabat. Ruangan itu penuh sesak, hampir tidak ada tempat lagi bagi orang yang baru datang. Mereka dengan khusyu’ mendengarkan petuah-petuah Rasulullah SAW. Bagaikan ada burung yang hinggap diatas kepala mereka.Begitulah akhlak anak didik Rasulullah SAW .

           Dalam suasana yang demikian itu, tiba-tiba muncul Imam Ali kw. Dan seperti biasanya beliau langsung mencari tempat duduk. Tapi rupanya saat itu ruangan masjid benar-benar penuh.

           Pada saat Imam Ali kw melihat ke kanan dan ke kiri mencari tempat, tiba-tiba Sayyidina Abu Bakar ra yang duduk disebelah Rasulullah SAW bergeser-geser dan sambil memberi isyarat memanggil Imam Ali kw untuk duduk diantara dirinya dan Rasulullah SAW.

         Melihat apa yang dilakukan oleh Sayyidina Abubakar ra tersebut, Rasulullah SAW segera menoleh ke Sayyidina Abubakar ra dan berkata:

لاَ يَعْرِفُ الفَضْل لاَِهْلِ الفَضْل اِلآ ذَوُو الفَضْل

(الرياض النظرة وفضائل الصحابة والال للنقشبندى، وابن السمان)

           “Tidak mengetahui keutamaan bagi orang yang utama terkecuali orang yang utama.”

Demikian para Sahabat, mereka saling kasih sayang dan saling hormat menghormati. Dapat kita lihat bagaimana cara Sayyidina Abubakar ra memberi tempat kepada Imam Ali kw.

Bukannya dia yang memilih mendekat ke Rasulullah SAW, tapi beliau justru memberi kesempatan kepada Imam Ali untuk duduk di sebelah Rasulullah SAW.

 Hal ini menunjukkan adanya hubungan yang sangat baik dan saling menghormati antara Imam Ali kw dengan para Sahabat Karenanya kami tidak sependapat dengan golongan Syi’ah yang suka menggambarkan seakan-akan Imam Ali kw itu dimusuhi  para Sahabat.

 Sebab jelas sekali, bahwa pendapat yang demikian itu tidak didukung oleh bukti-bukti yang akurat. Tujuan mereka hanya akan menyerang dan menjelekkan para Sahabat. Padahal akibatnya justru dapat mendiskriditkan Imam Ali kw.

 Benar apa yang pernah disampaikan oleh Rasulullah SAW bahwa kelak akan ada satu golongan yang sepintas lalu seakan-akan mencintai Ahlul Bait, dan tanda-tanda mereka suka mencaci maki Abu Bakar dan Umar.

   Kalau mereka itu benar-benar mencintai Imam Ali kw, maka semestinya mereka harus mengikuti Imam Ali kw. Tapi kenyataannya mereka itu justru tidak suka mengikuti apa-apa yang dikerjakan dan diajarkan oleh Imam Ali kw. Sebagai contoh, lihat cara mereka memperingati hari Asyura, samakah dengan apa yang dikerjakan oleh Imam Ali kw ? 

   ( Mengenai hari Asyura tersebut, kami akan bahas tersendiri ).

 

            Diantara keistimewaan Imam Ali kw adalah bahwa beliau itu tidak pernah sujud kepada berhala. Itulah sebabnya para ulama ketika menyebut nama beliau selalu ditambah dengan kata “Karromallahu Wajhahu” dan dalam tulusan-tulisan sering disingkat dengan KW.

Kemudian beliau juga dikenal sebagai orang yang pertama masuk islam dari kalangan anak anak, sebab saat itu umur Imam Ali kw baru sepuluh tahun, bahkan ada riwayat lain yang mengatakan delapan tahun.

Begitu pula beliau juga dikenal sebagai orang laki laki pertama yang sholat bersama Rosululloh SAW.

Dalam hal ini Zeid bin Argom berkata;

 

اَوَّلُ مَنْ صَلَّى مَعَ رَسُول الله صلى الله عليه وسلم عَلِىّ

                                  ( رواه احمد )

 Orang yang pertama sholat bersama Rosululloh SAW adalah Ali. 

                                                                           ( HR. Ahmad )

 

Imam Ali kw juga pernah berkata:

 

اَنَا اَوَّلُ رَجُل صَلَّى مَعَ رسول الله صلى الله عليه وسلم

                                    ( رواه احمد )

Saya adalah orang laki pertama yang Sholat bersama Rosululloh SAW.

                                                                                                      ( HR. Ahmad )

 

           Adapun mengenai wafat Imam Ali kw, maka semua ahli sejarah menyatakan bahwa Imam Ali kw wafat di kota Kufah. Beliau dipukul dengan pedang oleh Abdurahman bin Mul’jam, seorang yang asalnya Syi’ah, kemudian berhianat dan bergabung dengan Khowarij, gara-gara Imam Ali kw berdamai dengan Sahabat Muawiyah.

 

           Yang disayangkan, makam Imam Ali kw tidak diketahui dengan pasti. Namun riwayat yang kuat menyatakan beliau dimakamkan malam hari di Darul Imaroh di Kota Kufah. Rupanya waktu itu oleh keluarganya dirahasiakan, sebab takut dari orang-orang Khawarij, yang dikuatirkan akan menggali makam beliau. Begitu pula mungkin takut dari pengikut-pengikut Ibin Saba’ (orang-orang Syi’ah) yang selalu mengkultuskan beliau, bahkan saat itu ada yang menganggapnya sebagai Tuhan.

Bertindak selaku imam dalam sholat jinazah adalah Sayyidina Hasan ra.

 

             Tapi yang aneh, orang-orang Syi’ah sekarang beranggapan bahwa makam Imam Ali kw berada di kota Najaf di Irak.

             Padahal jarak antara kota Kufah dengan kota Najaf lebih kurang tujuh puluh kilometer dan saat itu untuk membawa jenazah beliau ke Najaf akan memakan waktu berhari-hari.

              Jadi tidak mungkin makam itu merupakan makam Imam Ali kw. Karenanya tidak ada ulama Sunni yang mengatakan bahwa itu adalah makam Imam Ali kw.

              Jika makam yang ada di Najaf itu benar-benar makam Imam Ali kw, pasti yang lebih tahu adalah keturunan Imam Ali kw, yaitu para Habaib. Tapi kenyataannya tidak satu orangpun dari para Habaib yang mengatakan dan mengakui bahwa itu adalah makam Imam Ali kw.

              Adapun mengenai makam yang ada di Najaf tersebut, maka menurut beberapa ulama, bahwa makam tersebu adalah makam Mughiroh bin Syu’bah. Tapi oleh pengikut-pengikut Ibin Saba’, sejak abad ketiga makam itu disulap menjadi makam Imam Ali kw.

              Rupanya mereka menyesal, setelah diantara mereka ada yang membunuh Imam Ali kw. Karenanya dalam usahanya menutupi perbuatan mereka yang biadab itu, dibuatlah tempat untuk memuja Imam Ali kw, dan sekaligus sebagai tempat untuk menyesali perbuatan mereka.

              Selanjutnya untuk menguatkan pendapat mereka tersebut oleh ulama-ulama Syi’ah, dibuatkan cerita-cerita palsu dengan mencatut nama Imam Ja’far As-Shodiq ra.

 

 

 
 
Hati-hati terhadap aliran yang menyesatkan seperti syiah yang mengaku mencintai Ahlul Bait.